Proses Mentoring STAK Terpadu Pesat
Di Post Oleh: Hergyana Saras Ningtyas Tanggal: 22/04/2020 Di Baca143 kali

Kehidupan dalam era perkembangan yang membawa dampak perubahan(Change), banyak memengaruhi tatanan sosial maupun nilai-nilai kehidupan manusia, termasuk di dalamnya adalah pola kehidupan  manusia. Mengapa demikian? Karena pada umumnya manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk saling memengaruhi satu dengan lainnya. Kehidupan yang saling bergantung dan saling memengaruhi memiliki kaitan yang sangat erat dengan proses perkembangan manusia dan  kepemimpinan manusia. Soekarso, Iskandar Putong, dalam buku Kepemimpinan Kajian Teori dan Praktis menuliskan bahwa  kepemimpinana adalah proses sosial dalam  memanajemen orang lain, memengaruhi, memberdayakan, dan mengarahkan, untuk mencapai tujuan.

 Mentoring dalam ilmu kepemimpinan dipandang sebagai suatu proses megembangkan orang yang dipimpin (mente) untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Laman Paul Stanley dan Robert Clinton berpendapat bahwa “mentoring adalah sebuah pengalaman hubungan di mana seseorang memberdayakan orang lain dengan berbagai sumber-sumber atau karunia-karunia yang diberikan oleh Tuhan”.

STAK Terpadu Pesat Salatiga memiliki Visi menjadi lembaga pendidikan tinggi dengan menyelenggaakan kegiatan pendidikan dan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat desa untuk memperlengkapi/menghasilkan pemimpin yang memuridkan. Untuk mencapai Visi tersebut, maka STAK Terpadu Pesat Salatiga menerapkan proses mentoring. Pola mentoring yang diterapkan dilakukan melalui proses pendampingan dan pemberdayaan yaitu mentor dan mahasiswa tinggal bersama, mentor mendampingi dan membimbing mahasiswa melalui pengajaran yang berdasarkan pada 5C(Christ, Character, Calling, Community dan Competensi)  dengan tujuan mahasiswa memiliki kepastian keselamatan secara pribadi di dalam Kristus, memiliki karakter yang bertumbuh serupa dengan Kristus, mahasiswa  menemukan dan menghidupi panggilannya,  bertumbuh dalam komunitias, dapat menerima perbedaan, berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, memiliki pengetahuan tentang konsep teologi, pelayanan anak dan pengetahuan umum lainnya.