Penerapan Mentoring STAK Terpadu PESAT
Di Post Oleh: Hergyana Saras Ningtyas Tanggal: 18/02/2021 Di Baca77 kali

Mentoring STAK Terpadu PESAT menerapkan pola pondok bagi seluruh mahasiswanya. 12 orang mahasiswa akan tinggal dengan seorang mentor dalam satu pondokan. Kondisi ini dibuat untuk memungkinkan terjadinya proses transformasi teladan hidup dari mentor kepada para mentee. Melalui semua kegiatan baik yang masuk dalam kurikulum mau pun tidak (hidden curriculum: ibadah pagi, ibadah malam, doa bagi bangsa, doa puasa Senin, ibadah raya, pemuridan, puasa pondok) dijadikan sarana untuk proses pembaruan budi tersebut terjadi kepada para mahasiswa. Dengan demikian diharapkan akan terjadi perubahan baik dalam sikap, pikiran, perkataan, dan perbuatan/perilaku (lahir baru) . Sesuai dengan visi membangun desa dan menyiapkan tenaga pendidik serta misionaris ke pedesaan, maka kampus STAK Terpadu PESAT dibangun dengan ala desa. Seluruh bangunan semi permanen dengan ornamen kayu dan bambu (gedeg) untuk mendukung suasana pedesaan dan kesan desa. Terbuka tanpa pagar, sesuai filosofi bahwa PESAT adalah untuk siapa saja dan melayani siapa saja. Mahasiswa STAK Terpadu PESAT berasal dari desa-desa di pulau-pulau besar Indonesia, seperti: Jawa (Tengah, Barat, Timur), Sumatra (Nias, Mentawai, Sibolangit), Kalimantan (Timur, Barat, Tengah), Sulawesi (Banggai, Toraja, Tomohon), NTT (Sumba, Kupang, Soe, Alor), Maluku, Papua. Dalam keseharian mahasiswa semua tinggal di asrama kampus dengan pola pondok. Pola ini dibuat untuk memungkinkan terjadinya transformasi hidup dalam interaksi sehari-hari. Para mahasiswa dididik dalam konteks kehidupan sehari-hari. Mereka tinggal seatap, makan semeja dan tergabung dalam satu tim pelayanan dengan mentor/pembimbingnya (kepala pondokan). Dalam konteks ini Mentor (kepala pondokan) tidak hanya membagikan Injil kepada yang dibimbingnya, tetapi juga hidupnya, sebagaimana Tuhan Yesus mendidik dan melatih kedua belas rasul-Nya. Pola pondok ini menekankan transformasi kehidupan dari mentor kepada murid-muridnya (1Tes. 2: 8-12). Proses pemindahan pengetahuan dan hidup dilaksanakan dalam konteks keluarga besar, yaitu terdiri atas seorang mentor (kepala pondokan) sebagai bapak atau ibu rohani bersama dengan 12 mentee (bimbingannya). Dalam konteks ini pertumbuhan rohani, peningkatan hikmat (pengetahuan), serta pembentukan watak akan berjalan seimbang dan serasi. Sistem pondok (hidup bersama dalam keluarga besar) dipilih guna memungkinkan proses pembentukan watak/karakter/mental dan perilaku yang maksimal. Pembentukan karakter Kristus adalah tujuan dari pola pondok ini.